
ADAINFO, KOTABARU – Setelah lama tidak tampil di Kotabaru akhirnya Kesenian Banjar Mamanda kembali menghibur warga Saijaan.
Kesenian yang dibawakan Sanggar Seni Pusaka Sa-ijaan itu berlangsung di Objek Wisata Siring Laut, Selasa (11/6/24) malam.
Mamanda yang dibawakan tersebut mengangkat tentang kisah kerajaan dengan judul “Kerajaan Prahara Istana Hati”.
Adapun kisahnya yaitu tentang kerajaan yang mempunyai anak kembar dan diminta panglima untuk dibuang.
Masyarakat yang hadir tampak begitu gembira sesekali tertawa terbahak saat menyaksikan kesenian Mamanda itu.
Ririn misalnya salah satu penonton yang terlihat tak henti hentinya tertawa senang karena adanya penampilan Mamanda ini di Kotabaru ini.
“Jujur saya sangat kangen dengan penampilan Mamanda ini, sudah lama sekali tidak menyaksikan,” ungkapnya kepada wartawan.
Apalagi lanjutnya, Mamanda ini tidak hanya membuat penonton belajar tentang budaya Banjar. Tapi juga membuat kita mencintai apa itu budaya Banjar.
“Walaupun saya tertawa lepas. Jujur saya sangat terhibur sekali dan mudahan kedepan acara seperti ini kembali bisa ditampilkan,” ujarnya berharap.
Sedangkan, Hadri Ketua Sanggar Seni Pusaka Sa-Ijaan menjelaskan penampilan Mamanda di Kotabaru ini sudah dua tahun lebih tidak ditampilkan.
“Alhamdulilah kami kembali bisa menampilkan Mamanda dan mengobati rasa kangen masyarakat Kotabaru yang sering menanyakan ke saya kapan ada penampilan Mamanda,” katanya.
Diceritakannya, dalam persiapan Mamanda ini ia tidak perlu latihan. Ia hanya mengarahkan sekitar 20 menitan ke pemain sampai bisa menarik benang merahnya.
“Alhamdulillah dengan kelihatan para pemain bisa membuat masyarakat terhibur dan ini membuat kami bahagia,” ungkap Hadri.

Selain Hadri, Fitri Fahriannoor yang juga pemain yang memerankan Raja Mamanda juga sangat senang akhirnya ia bersama sanggar kesayangannya kembali tampil Mamanda di Kotabaru.
“Kalau Mamanda ini jangankan masyarakat, kami aja sebagai pemain sangat kangen tampil Mamanda,” tuturnya.
Terakhir, Fitri berpesan buat masyatakat untuk kamu muda agar lebih mencintai dan melestarikan budaya milik kita Banjar.
“Kalau bukan kita siapa lagi yang mencintai dan melestarikan budaya kita,” ujarnya. (red)





