Menyedihkan! Antrean Panjang di SPBU masih Dikeluhkan Warga Kotabaru

Antrian panjang di salah satu SPBU di Kotabaru. Foto by adainfo.net

ADAINFO, KOTABARU – Pemandangan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di pusat Kotabaru, Kalsel masih terjadi.

Kondisi itu terjadi sejak kemarin hingga hari ini, Selasa (5/4).

Hal itu lantaran fakta di lapangan bahan bakar minyak jenis pertalite dan pertamax kosong di eceran.

Pantauan penulis antrean mengular cukup panjang bahkan sampai ruas jalan raya. Baik di SPBU Sigam dan Sungai Taib.

Antrean itu pun didominasi para pengendara roda dua juga empat. Mereka rela mengantre di bawah terik agar bisa mengisi BBM.

Diungkap Edo, salah seorang pengendara rela antre lama dan panas panasan demi BBM.

Bahkan, pria sekaligus bapak dari tiga anak ini sangat kecewa lantaran sudah cukup lama antre namun giliran mau mengisi BBM-nya habis.

“Parah, Mas. Saya antre di SPBU Sigam mulai dari jalan raya itu satu jam lebih. Tapi, pas giliran mau pengisian BBM jenis pertamaknya malah dibilang habis oleh petugas,” ujar Edo, dengan nada kecewa.

Lantas menyikapi kegaduhan warga itu, pihak DPRD Kotabaru juga telah menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama pihak terkait.

Hal itu sebagai bukti merespons keresahan masyarakat.

Rapat itu digelar pada Senin (4/5/26) dipimpin langsung oleh Wakil Ketua I DPRD Kotabaru, Awaludin.

Di tengah forum, Awaludin meminta klarifikasi dari seluruh pihak, mulai dari perwakilan masyarakat, operator transportasi laut, hingga pihak Pertamina.

“Kami meminta keterangan kepada masyarakat dan operator speedboat yang merasa kesulitan mendapatkan BBM. Kami juga meminta Pertamina Kotabaru menjelaskan kondisi stok saat ini,” ujar Awaludin.

Menanggapi keluhan tersebut, Perwakilan Pertamina Kotabaru, Faisal, menegaskan bahwa sejauh ini tidak ada kebijakan pengurangan pasokan ke wilayah Kotabaru.

Bahkan menurutnya, justru sebaliknya sebab data menunjukkan adanya peningkatan penyaluran atau suplai di lapangan.

“Stok harian tidak ada pengurangan, bahkan kami menyesuaikan dengan kuota yang ditentukan pusat. Mengenai stok, kondisi sangat aman untuk 10 hingga 20 hari ke depan, jadi warga tidak perlu khawatir,” terang Faisal.

Lantas, berkenaan dengan persoalan itu, Faisal menduga antrean panjang dipicu oleh panic buying atau kekhawatiran berlebih dari masyarakat terkait isu kenaikan harga BBM.

Selanjutnya, ia memastikan pihaknya akan segera melakukan normalisasi kondisi di lapangan di tengah persoalan distribusi menjadi sorotan tajam.

Kepala Desa Hilir Muara, Usman Pahero, mempertanyakan sinkronisasi antara klaim stok aman Pertamina dengan realita di lapangan.

Menurutnya, para pelangsir di daerah kepulauan memiliki peran dalam mendistribusikan BBM ke wilayah yang sulit dijangkau, bukan untuk penyalahgunaan. (duki).