
ADAINFO, KOTABARU – Agenda budaya grebek kampung di Desa Sebelimbingan Kecamatan Pulau Laut Utara Kotabaru berlangsung meriah.
Ratusan warga tumpa ruah hadir dalam momen sakral yang berlangsung di kawasan wisata hutan meranti putih itu, pada Minggu (30/11).
Menariknya, warga Desa Sebelimbingan terlihat berbondong-bondong membawa hasil panen terbaik mereka. Mulai dari aneka sayuran segar, singkong, kacang-kacangan, hingga buah-buahan lokal.
Semuanya hasil bumi itu dikumpulkan dalam tumpeng raksasa sebagai wujud nyata rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Usai acara resmi ditutup, ratusan tangan langsung bergerak cepat.
Dibalut suasana gembira, tua dan muda saling berebut mendapatkan berkat hasil bumi tersebut, yang dipercaya membawa keberkahan.
Momen rebutan hasil bumi ini menjadi pemandangan yang paling menarik perhatian para pengunjung salah satu wisata unggulan di Bumi Saijaan itu.
Sementara Kholil, koordinator lapangan sekaligus fasilitator grebek kampung, menjelaskan tradisi itu adalah warisan lama, dulu dikenal sebagai grebeg suro, lalu kembali dihidupkan melalui kolaborasi dengan event meranti.
“Jadi, tujuan utama grebek kampung adalah untuk menyampaikan dan mewujudkan kebersamaan,” ujar Kholil.
Ia menambahkan, esensi dari kegiatan ini adalah menguatkan kembali semangat gotong royong yang mulai memudar, di mana warga bahu-membahu mencari kayu dan daun untuk keperluan memasak.
“Ini adalah rasa syukur kami. Makanya kami keluarkan semua hasil bumi, yang bisa dinikmati bersama-sama,” terangnya.
Kholil bilang yang paling unik adalah penyajian makna-makna di dalam tumpeng, menggunakan bahasa Jawa kuno, yang memancing keingintahuan para tamu undangan.
Wakil Bupati Kotabaru, Syairi Mukhlis, yang hadir dalam penutupan, memberikan apresiasi tinggi terhadap tradisi ini dan menyebutnya sebagai warisan lokal yang kaya nilai sejarah, kebersamaan dan spiritualitas masyarakat.
Wabup meminta warga agar kegiatan grebek kampung tahun depan dapat ditingkatkan skalanya dan lebih meriah.
“Kalau bisa tahun depan lebih besar lagi. Di sini kan ada tiga desa, ya? Megasari, Sebelimbingan, Gunung Sari. Wah, jadi satu, ramai-ramai bisa lebih besar lagi nanti acaranya,” ujar Syairi.
Meski demikian Syairi juga mengingatkan bahwa grebek kampung dan wisata hutan meranti hanya akan maju jika masyarakatnya ramah.
“Mari hormati, hargai para tamu yang datang di sini, karena wisata yang maju ketika orang-orangnya juga ramah menerima para tamu dari luar,” tutur Wabup. (rls/duki).





