
ADAINFO, LAMPUNG – Suasana Kota Agung di Kabupaten Tanggamus, Lampung, mendadak berbeda lebih berwarna.
Ribuan warga tumpah ruah di kawasan Islamic Center. Tentu tidak untuk demonstrasi, melainkan untuk lari yang diberi nama Tanggamus Color Run 2025.
Sebuah ajang yang lebih dari sekadar lari, tapi juga sarana menumbuhkan semangat baru untuk sehat bagi masyarakat.
Agenda ini mengusung tema ‘Jalan lurus menyatukan warna Alam dan budaya Kabupaten Tanggamus dan dibuka resmi oleh Bupati Moh. Saleh Asnawi.
Menariknya, meskipun baru pertama kali digelar namun acara cukup meriah dan mendapat respon yang luar biasa.
Bahkan tercatat lebih dari 3 ribu peserta, dari anak-anak hingga orang dewasa, berpartisipasi dengan antusias.
Menurut Bupati Saleh, kegiatan ini adalah salah satu cara untuk menampilkan wajah baru Tanggamus yang lebih sehat, bersih, dan tertata.
“Pemerintah ingin menjadikan acara ini sebagai salah satu kegiatan ikonik di Kabupaten Tanggamus,” ujarnya.
Antusiasme peserta tak hanya terlihat dari jumlahnya, tapi juga dari interaksi mereka. Di setiap pos, para pelari disemprot bubuk warna-warni yang menciptakan pemandangan layaknya pelangi berjalan.
Tawa riang dan sorak-sorai memenuhi udara, menandakan bahwa olahraga bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dan penuh kebersamaan.
Selain soal lari dan warna, acara ini juga dirancang untuk menggerakkan ekonomi lokal. Di sepanjang area acara, berjejer rapi tenda-tenda UMKM yang menjual aneka makanan, minuman, dan kerajinan tangan khas Tanggamus.
Mulai dari kopi robusta hingga keripik pisang, semua tersedia. Para peserta pun memanfaatkan momen ini untuk mencicipi kuliner lokal dan membeli oleh-oleh.
Sementara Swaryantina, Event Director KS Management, yang menjadi pelaksana acara ini, menjelaskan bahwa Tanggamus Color Run 2025 adalah perpaduan harmonis antara olahraga, pariwisata, dan promosi daerah.
Ia berharap acara ini bisa menjadi agenda tahunan yang tak hanya memperkuat sport tourism, tetapi juga mengangkat potensi Tanggamus ke kancah nasional.
Ketika para pelari mencapai garis finis, mereka bukan hanya membawa medali atau bubuk warna di baju.
Mereka membawa pulang cerita tentang sebuah kabupaten yang berani menampilkan wajah barunya, sebuah tempat di mana olahraga, budaya, dan ekonomi lokal bisa bersatu dalam sebuah perayaan penuh warna. (rel/ duki).





