
ADAINFO, KOTABARU – Pemandangan Langit Desa Sebelimbingan sore itu merayap memerah, menyisakan bias keemasan yang menembus rapatnya kanopi Hutan Meranti.
Udara terasa dingin, namun suhu di panggung utama MP2AF yang di gelar Disparpora Kotabaru memancarkan kehangatan gairah yang tak terhingga, Senin awal bulan tadi.
Di sana, di antara aroma tanah basah dan resonansi alat musik tradisi, berdirilah seorang pria yang matanya menyimpan kisah panjang tentang ruang hidup dan batin perlawanan akan lunturnya warna budaya.
Namanya akrab dengan sapaan Daeng Misbah.
Menariknya ia hadir bukan hanya sebagai seniman, tetapi kehadirannya kali ini terasa lebih sakral, ia seolah intim merasakan rintihan suara denyut meranti seakan kembali ke rahim dimana tempat festival ini dilahirkan.
Daeng Misbah ini, dengan langkah kakinya ribuan kilometer yang jauh disana, memilih berangkat ke pangkuan Meranti, membawa bekal dan cucuran keringat jadi bekalnya.
Ia hadir tidak hanya sebatas menyaksikan euforia panggung. Jauh sebelum tirai penutup diturunkan. Ia telah menyibukkan diri di sebuah ruang tepian di sana, lahir puluhan wajah muda, anak-anak pelajar Kotabaru, menatapnya penuh rasa ingin tahu.
Nah, itulah Workshop Khusus, sesi berbagi pengetahuan yang dibawanya untuk ikhlas didedikasikan kepada generasi muda Kotabaru.
Tampak jelas dinding batas dan jurang curam tak terlihat lagi saat ucapan demi ucapan keluar bagai sabda alam untuk generasi milenial memahami warisan seni tradisi untuk masa depan.
Pena dan kertas berhadapan penuh coretan berisi esensi pengetahuan tentang budaya yang kian tergerus oleh derasnya arus digital.
Daeng Misbah, dengan suara yang tegas namun teduh, perlahan bertutur membongkar rahasia di balik ruang dan ekosistem pertunjukan.
Dia tidak hanya mengajar, tapi langsung menularkan kobaran semangat.
“Seni tradisi kita, Nak, bukan fosil yang hanya pantas disimpan di museum. Dia harus menjadi nafas yang kalian hirup setiap hari,” pesannya, seolah ia sedang menyuntikkan booster antibodi tentang kebudayaan ke dalam jiwa-jiwa muda di Kotabaru.
Misi penting dari pendidikan informal ini adalah pondasi program MP2AF yang sesungguhnya, memastikan bahwa regenerasi peristiwa seni mampu melahirkan bibit-bibit batu di Banua ini, agar berkelanjutan tidak mati suri-atau eksis namun tak memiliki roh atau jiwa..
Daeng Misbah terus memandang panggung alam di Hutan Meranti, dimana tempat MP2AF kini merayakan janji leluhur pada edisi kali keempatnya.
“Sayangnya tak banyak seniman memilih hadir ke Hutan Meranti, mungkin bahkan tak ingin terlibat pungkasnya. Padahal sudah banyak yang membuktikan bahwa ruang desa adalah nadi budaya kita, segala potensi budaya, tradisi dan seni di sekitar kita desalah yang melahirkannya” ungkapnya. (red).





