
ADAINFO, KOTABARU – Masih berada di awal tahun baru Islam atau Muharram 1445 Hijriyah peringatan haul keluarga kerjaan Cantung atau Guru Besar Desa Banua Lawas, Kecamatan Kelumpang Hulu resmi digelar.
Rangkaian demi rangkaian berjalan khusuk di komplek makam kerajaan Cantung, tepatnya di kawasan bantaran sungai Banua Lawas, Senin (26/7).
Turut hadir keluarga besar kerajaan, sejumlah pejabat daerah, para tokoh, ulama, masyarakat, pelajar serta Habib Qadri bin Usman Al Aydrus sebagai penceramah.
Tampak hadir pula jajaran TNI-Polri serta unsur Muspika di wilayah Kecamatan Kelumpang Hulu, Kotabaru.
Rangkaian peringatan haul kali ini diawali dengan pembacaan maulid Al Habsyi, Kalam Ilahi, serta tausyiah agama.
Menariknya, di sela peringatan haul juga di dibacakan sejarah singkat kerjaan Cantung oleh tokoh muda sekaligus sejarawan Kotabaru, Saijul Kurnain, atau uncit Ijul sapaan akrabnya.
Diceritakannya, Raja Cantung pertama bernama Ratu Intan satu putera dari Sultan Tamjidillah yang dimakamkan di kawasan Desa Bakau, Pamukan Utara.
Kemudian Kerajaan Cantung berakhir di masa Raja Aji Kesuma Negara Raja Cantung ke 5, dan pusat pemerintahannya berada di Gunung Jawa Sakadoyan pada 1 Juni 1867 lalu dipindah ke Muara Salat Desa Banua Lawas.
Tepat pada 23 Agustus 1890 Pangeran Aji Kesuma Negara Raja Cantung ke-5 dijadikan tahanan politik oleh VOC Belanda ke Bondowoso Provinsi Jawa Timur hingga wafat di sana.
“Intinya melalui peringatan haul ini, kami berharap bisa terus memperjuangkan perjuangan terdahulu dengan keadaan yang sesuai dengan zamannya sekarang ini,” ucap Izul.
Sementara Rudi Nugraha Kabid Event dan Pertunjukan Disparpora Kotabaru mengharapkan sejarah jangan sampai dilupakan, sebab merupakan aset yang sangat berharga bagi bangsa.
“Tentu kita semua harus mencintai sejarah ataupun budaya, karena itu adalah modal dan identitas kita. Kalau itu tidak ada, maka kita akan kehilangan identitas,” katanya.
Rudi bilang dalam sejarah kerjaan banyak mengandung norma. Tentu semua dengan maksud dan tujuan pendahulu, diantaranya soal sopan santun dan sekaligus memperkenalkan perjuangan kepada pengurus.
“InsyaAllah, dengan adanya edukasi seperti ini juga akan menambah kunjungan pariwisata religi di Kotabaru dan kami akan terus turut mempromosikannya,” tutupnya Rabu (26/7). (Msd)





